Tiga Spesies Endemik Terancam? The Tebings dan Burung Indonesia Petakan Kawasan Konservasi di Tomajiko
TERNATE – Yayasan The Tebings bersama Burung Indonesia memetakan sejumlah kawasan yang dinilai penting untuk perlindungan spesies endemik di Kelurahan Tomajiko, Pulau Hiri, Kota Ternate.
Pemetaan tersebut menjadi bagian dari kegiatan diseminasi hasil kajian penguatan tata kelola konservasi spesies endemik dan prioritas yang digelar di Tomajiko, Selasa (15/9/2026).
Sejumlah spesies yang menjadi perhatian dalam kajian tersebut yakni kepiting kelapa atau yang dalam bahasa lokal disebut disau, dugong atau kobo, serta burung gosong Maluku atau muleo.
Pemetaan dilakukan untuk mengidentifikasi wilayah yang dianggap penting bagi perlindungan keanekaragaman hayati di Tomajiko. Hasil kajian diharapkan dapat menjadi dasar dalam mendorong upaya konservasi yang melibatkan masyarakat setempat.
Kegiatan diseminasi itu merupakan tindak lanjut dari riset lapangan yang dilakukan tim riset The Tebings bersama lima mahasiswa magang dari Program Studi Antropologi Sosial, Universitas Khairun.
Hasil riset menunjukkan Tomajiko memiliki potensi keanekaragaman spesies endemik yang membutuhkan upaya perlindungan secara bersama-sama dengan masyarakat lokal.
Akademisi Universitas Khairun sekaligus peneliti The Tebings, Supyan, M.Si., mengatakan pemetaan kawasan konservasi perlu dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat yang selama ini beraktivitas di wilayah tersebut.
“Dalam kegiatan itu, masyarakat bersama-sama mengidentifikasi wilayah yang dianggap rawan maupun kawasan yang perlu diprioritaskan untuk perlindungan spesies,” kata Supyan kepada caritakota.com, Selasa (15/9/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari nelayan, penangkap kepiting, petani, perwakilan perempuan, tokoh adat, pemuda, hingga perangkat Kelurahan Tomajiko.
Perwakilan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) juga hadir untuk memberikan masukan terkait aturan serta upaya perlindungan satwa.
Sementara itu, Lurah Tomajiko, Musa Ibrahim, S.IP., mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia berharap upaya konservasi tidak berhenti pada kegiatan diseminasi, tetapi dapat dilanjutkan secara berkelanjutan pada tahun-tahun berikutnya.
“Keberlanjutan program penting agar keberadaan spesies endemik di wilayah Tomajiko tetap terpelihara dengan baik,” ujarnya.
Perwakilan BKSDA, drh. Hasrian, mengatakan konservasi kepiting kelapa dapat dikembangkan melalui skema penangkaran. Menurutnya, upaya tersebut tidak hanya dapat membantu menjaga populasi kepiting kelapa, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Penangkapan kepiting kelapa dari alam dilarang berdasarkan ketentuan yang berlaku. Karena itu, apabila masyarakat ingin mengembangkan penangkaran, harus disertai dengan pengurusan izin serta peninjauan kelayakan lokasi oleh pihak terkait,” tegasnya.
Hasil pemetaan selanjutnya diharapkan menjadi pondasi awal dalam penyusunan kesepakatan lokal mengenai wilayah-wilayah yang perlu mendapatkan perlindungan.
Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat perlindungan keanekaragaman spesies endemik di Pulau Hiri dengan menempatkan masyarakat lokal sebagai bagian penting dalam pengelolaan dan konservasi kawasan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan