Ekonomi Halut Melonjak, Bupati Piet Ingatkan Pertumbuhan Harus Terasa di Kantong Warga
TOBELO, — Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara (Halut), Maluku Utara, menggelar High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk membahas strategi menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Kegiatan yang mengusung tema “Inflasi Terjaga, Langkah Maju Membangun Halmahera Utara” itu berlangsung di Ruang Meeting Fredy Tjandua, Kantor Bupati Halut, Desa Gamsungi, Kecamatan Tobelo, Kamis (24/9/2026).
Pertemuan tersebut dihadiri Bupati Halut Piet Hein Babua, Wakil Bupati Kasman Hi. Ahmad, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Maluku Utara Fadhil Muhammad, Ketua DPRD Halut Christina Lesnussa, Kapolres Halut AKBP Erlichson Pasaribu, Ketua PN Tobelo Tri Asnuri Herkutanto, Sekda Halut E.J. Papilaya, serta sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) dan instansi vertikal.
Saat membuka kegiatan, Piet Hein Babua menekankan pentingnya langkah antisipatif dalam mengendalikan inflasi. Menurut dia, pemerintah tidak boleh menunggu harga kebutuhan pokok melonjak sebelum melakukan intervensi.
“Kita tidak boleh menunggu sampai harga semakin tinggi baru melakukan intervensi. Pengendalian inflasi harus dilakukan sejak awal melalui pemantauan harga rutin dari minggu ke minggu, penguatan produksi lokal, pengamanan pasokan, kelancaran distribusi, serta kerja sama antardaerah,” kata Piet.
Harga cabai masih jadi perhatian
Piet mengatakan, kondisi inflasi di Halut salah satunya dipengaruhi konsumsi rumah tangga, terutama harga sejumlah komoditas pangan seperti bawang, cabai, dan tomat atau Barito.
Saat ini, harga cabai di wilayah Halut masih tergolong tinggi. Kondisi tersebut diperberat oleh faktor cuaca dan aktivitas erupsi Gunung Dukono yang masih berlangsung.
Menurut Piet, kondisi alam tersebut berpotensi memengaruhi produksi pertanian sekaligus menghambat distribusi logistik.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong penguatan produksi komoditas pangan dari petani lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
Pertumbuhan ekonomi Halut tembus 11,05 persen
Di tengah tantangan pengendalian inflasi, Piet juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Kabupaten Halmahera Utara.
Berdasarkan evaluasi terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Halut meningkat dari 3,89 persen pada 2025 menjadi 11,05 persen.
Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh sektor industri dan pertambangan.
Piet berharap pertumbuhan ekonomi tersebut tidak berhenti pada capaian statistik, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap pendapatan dan daya beli masyarakat.
“Lonjakan yang didorong oleh sektor industri dan pertambangan ini diharapkan tidak sekadar menjadi angka statistik, melainkan berdampak nyata pada pendapatan dan daya beli masyarakat,” ujarnya.
Petani lokal mulai produksi cabai dan tomat
Pemerintah Kabupaten Halut juga melihat peluang untuk memperkuat pasokan pangan melalui produksi lokal.
Piet mengatakan, berdasarkan pemantauan di sejumlah pasar, komoditas tomat dan cabai yang sebelumnya banyak didatangkan dari luar daerah kini mulai diproduksi secara konsisten oleh petani Halut.
Pemkab Halut berkomitmen menjaga kesinambungan produksi tersebut melalui perbaikan pola produksi, pemanfaatan teknologi pertanian, penguatan sistem distribusi, hingga dukungan pembiayaan.
Kerja sama dengan Bank Indonesia dan pelaku usaha juga akan diperkuat untuk mendukung sektor pertanian.
Sebagai bagian dari kegiatan HLM TPID, Bank Indonesia Perwakilan Maluku Utara turut memfasilitasi penyerahan bantuan pertanian secara simbolis kepada sejumlah kelompok tani.
Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dan dialog antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, serta para pemangku kepentingan terkait pengendalian inflasi di Kabupaten Halmahera Utara.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan