HaloGuys

Om Talut, Lelaki yang Berjalan di Tengah Gelap Sepanjang Hidupnya

Malam itu, jalan menuju RT 17 Kelurahan Maliaro, yang oleh sebagian warga dikenal sebagai Maliaro Puncak, kembali diselimuti gelap.

Tidak banyak cahaya yang menerangi jalan. Lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) belum hadir di sepanjang sebagian kawasan tersebut. Dalam kondisi seperti itu, sebagian warga tetap harus menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk berjalan kaki pulang ke rumah pada malam hari.

Di tengah kondisi tersebut, ada sosok yang bagi saya menyimpan sebuah cerita sederhana, tetapi begitu dalam. Namanya Om Talut.

Saya mengenal Om Talut ketika membeli tanah di kawasan RT 17 Kelurahan Maliaro. Rumah beliau berada di bagian yang oleh warga sekitar sering disebut “ujung aspal”, karena setelah kawasan tersebut, jalan yang dapat dilalui kendaraan semakin terbatas dan sebagian wilayahnya merupakan kebun warga.

Kawasan Maliaro Puncak juga berada di sekitar kaki Gunung Gamalama dan termasuk wilayah yang perlu mendapatkan perhatian dalam aspek kebencanaan.

Suatu malam, setelah menghadiri sebuah hajatan di lingkungan sekitar rumah saya, warga mulai berpamitan untuk pulang. Om Talut pun melakukan hal yang sama.

Beliau hendak pulang dengan berjalan kaki.

Melihat beliau berjalan sendirian di tengah malam, saya kemudian menawarkan untuk mengantarnya menggunakan motor saya, si Jony.

Saya pun mulai mengendarai motor menuju rumah Om Talut.

Namun, sepanjang perjalanan, saya baru benar-benar merasakan betapa gelapnya jalan yang setiap hari harus dilalui warga di kawasan tersebut.

Tidak banyak penerangan. Hanya cahaya lampu kendaraan yang menjadi penerang jalan.

Saya kemudian bertanya kepada Om Talut,

“Om, tidak takut berjalan sendiri malam-malam dengan kondisi jalan segelap ini?”

Jawaban beliau sederhana.

“Ah, sudah biasa seperti ini. Kami sudah biasa jalan malam dengan kondisi gelap begini. Yang kami takut kalau ada anjing.”

Beliau mengatakannya sambil tertawa lepas.

Saya pun ikut tersenyum.

Tetapi setelah beliau turun dari motor dan mengucapkan terima kasih karena telah diantar sampai rumah, saya kembali memutar kendaraan menuju rumah saya.

Di perjalanan pulang, saya kembali melewati jalan yang sama.

Gelap.

Saat itulah saya mulai berpikir, mungkin bagi Om Talut dan warga lainnya, kondisi seperti ini memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka terbiasa berjalan dalam gelap, bukan karena mereka menginginkannya, tetapi karena keadaan membuat mereka terbiasa.

Om Talut mungkin sudah terbiasa berjalan dalam gelap. Tetapi apakah warga harus terus terbiasa hidup tanpa penerangan jalan?

Pertanyaan sederhana itu yang kemudian mendorong saya menuliskan kisah ini.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Ini adalah cerita kecil dari sudut sebuah kampung, tentang harapan warga agar fasilitas dasar yang sangat sederhana seperti Penerangan Jalan Umum (PJU) dapat menjadi perhatian.

Penerangan jalan bukan sekadar soal cahaya.

Ia menyangkut rasa aman warga ketika pulang malam, kenyamanan anak-anak dan orang tua yang melintas, serta aktivitas masyarakat yang berlangsung hingga malam hari.

Karena itu, melalui kisah Om Talut, kami berharap Pemerintah Kota Ternate dapat melihat kembali kondisi penerangan jalan di kawasan RT 17 Kelurahan Maliaro, khususnya wilayah yang oleh warga dikenal sebagai Maliaro Puncak.

Barangkali bagi sebagian orang, satu lampu jalan hanyalah sebuah fasilitas kecil.

Namun bagi warga yang setiap malam harus melewati jalan yang gelap, satu lampu bisa berarti banyak: penerangan, rasa aman, dan perhatian pemerintah kepada warganya.

Dan mungkin suatu hari nanti, Om Talut tidak lagi harus berkata,

“Sudah biasa berjalan dalam gelap.”

Melainkan bisa berkata,

“Sekarang jalan kami sudah terang.”

Semoga.

 

Penulis: IsBa85

(Warga RT 17 Kelurahan Maliaro, Kota Ternate)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup