HaloGuys

Laga Beda Kasta

Grup whatsapp di Handphone saya, riuh usai Jerman membantai Curacao dengan skor 7-1 pada pertandingan fase grup E. Beberapa teman bahkan ada yang mengirim meme dan menyamakan capaian itu sama dengan pertandingan saat mengalah Brasil pada piala dunia 2014. Bagi kawan pendukung Jerman, hasil itu dianggap menjadi bukti bahwa Jerman telah kembali ke habitatnya sebagai raksasa sepak bola dunia. Jerman adalah tim paling hebat.

Saya sebenarnya tak terkejut dengan kemenangan itu, dan menganggapnya biasa-biasanya saja. Sejak awal saya sudah memprediksi Jerman sudah pasti akan menang mudah saat melawan Curacao. Alasannya sederhana, diatas kertas Der Panzer sudah unggul dalam segala hal. Mulai dari jam terbang pemain, infrastruktur dan turnamen.

Jerman memiliki tradisi panjang sebagai salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia dengan koleksi gelar dan pengalaman yang melimpah. Ada empat bintang bersemayam di seragamnya. Di sisi lain, Curacao baru mencatatkan sejarah sebagai negara terkecil yang tampil di putaran final Piala Dunia. Tak ada pengalaman tanding luar biasa saat melawan negara besar. Melawan negara seperti Indonesia pun Curacao mengalami kekalahan. Jerman dan Curacao adalah dua tim dengan pengalaman tanding yang berbeda. Bisa dibilang laga melawan Curacao disebut sebagai “laga beda kasta”. Itulah mengapa kemenangan Der Panzer atas caracou dengan skor telak bagi saya bukanlah sesuatu yang luar biasa.

Dalam catatan statistik, permainan Jerman sebenarnya tidaklah cukup apik beberapa tahun terakhir. Jerman justru kerap mengalami kesulitan ketika menghadapi tim-tim besar yang memiliki intensitas permainan tinggi, organisasi taktik yang matang, dan kualitas individu yang setara. Mereka sudah pasti akan mampu tampil dominan saat menghadapi lawan yang berada beberapa level di bawahnya, tetapi sering kehilangan kontrol ketika pertandingan berubah menjadi duel yang menuntut efisiensi, mentalitas, dan konsistensi selama 90 menit.

Kekalahan atas Slovakia 2–0 pada September 2025, Jepang 4-1 pada September 2023,  Colombia 2-0 pada Juni 2023 dan Polandia 1-0 pada Juni 2023 adalah bukti bila Jerman memulai awal piala dunia dengan catatan tak bagus. Karena itu, tantangan sesungguhnya bagi Jerman, baru akan datang ketika mereka bertemu tim dengan kualitas yang setara. Dalam konteks itu, kemenangan besar atas Curacao lebih banyak berfungsi sebagai peningkat moral dan statistik daripada indikator kekuatan yang sebenarnya.

Namun, dalam sepak bola kemenangan tetaplah ukuran. Siapapun lawannya, skor akhir menjadi penanda kehebatan. Di lapangan hijau, reputasi hanya bertahan sampai peluit pertama dibunyikan, dan sepertinya Jerman tak peduli ‘perbedaan kasta”. Kemenangan atas Caracao ingin digunakan Jerman untuk mengirimkan pesan kuat kepada para pesaing bahwa mereka datang ke Piala Dunia 2026 sebagai salah satu kandidat juara, dan saya tak begitu terkejut. (***)

oleh: Budhy Nurgianto
Pendukung Selecao Dari Kaki Gamalama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup