Seri Bukanlah Hal Buruk
Sejak awal saya sudah memprediksi Maroko akan tampil impresif dengan semangat tinggi saat melawan Brasil pada pertandingan fase grup C Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife Stadium, New York New Jersey pada Minggu Pagi tadi. Hakim cs akan membuktikan bahwa sepak bola zaman sekarang tidak lagi melihat nama besar saja. Sekarang yang penting adalah kerja tim, disiplin, dan ganti arah main dengan cepat. Hasilnya Maroko berhasil menahan seri Selecao dengan skor 1-1.
Sebagai pendukung berat Brasil, saya sebenarnya kecewa dengan hasil seri itu, apalagi bila melihat permainan Brasil saat melawan Maroko pagi tadi, benar-benar diluar ekspektasi sebagai tim juara. Namun dalam dunia sepak bola, hasil seri tidak selalu berarti kegagalan meskipun kemenangan sering dianggap sebagai satu-satunya hasil yang memuaskan. Brasil tetaplah menjadi favorit.
Hasil imbang ini sudah pasti akan menjadi pelajaran berharga. Pelatih Brasil, Carlo Ancelotti pasti akan belajar bahwa nama besar saja tidak cukup untuk memenangkan pertandingan. Mereka harus bekerja lebih keras, memperbaiki koordinasi permainan, dan meningkatkan efektivitas serangan. Apalagi semua tim piala dunia sudah tentu akan tampil tanpa rasa takut dan penuh kebanggaan.
Pada laga melawan Maroko, saya mencatat ada beberapa kesalahan-kesalahan yang mungkin kedepan harus diperbaiki Brasil. Pelatih Don Carlo harus bisa menguatkan lini belakang dan membuatnya lebih solid. Gol Maroko pada menit ke-20 yang dicetak oleh Ismael Saibari berawal dari skema sederhana yang gagal diantisipasi lini pertahanan Brasil. Bek tengah Gabriel Magalhães gagal menutup ruang gerak Saibari yang lolos dari kawalan, sementara kiper Alisson Becker yang terlanjur maju juga dengan mudah ditaklukkan lewat tembakan cungkil.
Selain itu Pelatih Don Carlo, harus bisa kembali membangkitkan kreativitas pada pemain. Gaya Joga Bonito yang menawan sudah saatnya ditampilkan. Saat melawan Maroko kreativitas Selecao terlihat buntu. Selama 30 menit pada babak pertama, Brasil yang dipimpin Lucas Paqueta dan Raphinha tampil sangat buruk. Permainan tanpa ada kreativitas dan cenderung minim pasokan matang. Lebih parahnya lagi para pemain Brasil kerap salah umpan, yang seharusnya itu tidak boleh terjadi. Akibatnya Brasil menjadi sulit keluar dari tekanan (pressing) ketat yang diperagakan para pemain Maroko. Beruntung Selecao memiliki Vinicius Junior, pemain kecil jenius yang pada menit ke-31 mampu menyelamatkan muka Brasil.
Tetapi, sebagai pendukung Brasil, hasil seri 1-1 melawan Maroko tetaplah bukanlah hal buruk. Seri bukan tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa kedua tim sama-sama pantas dihormati. Brasil tetap bisa menunjukkan kualitasnya sementara Maroko menunjukkan keberaniannya. Hasil itu tetap membuktikan Brasil bukanlah tim “soki-soki”, dan mengawali seri bukanlah hal buruk. (***)
oleh: Budhy Nurgianto
Pendukung Selecao Dari Kaki Gamalama

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan